Rabu, 25 Februari 2009

Dewasa Itu Pilihan


Book Title: Dewasa Itu Pilihan
Author: Kiki Fardiansyah

By reading this book, I realize something. That having a vision for your life is SUPER IMPORTANT. Well, it’s not like I didn’t realize it before. I know that having a vision is important, but after all these years, I never took it seriously. And after read this book, I know that I MUST wrote my vision. Make some plan and target from it; and also make some backup plan, just in case my first plan doesn’t work out. And so on, and so for...

Well, sebenernya bikin VISI HIDUP itu langkah kedua dari delapan langkah yang dijabarin sama buku ini untuk lo bisa jadi manusia dewasa. Langkah pertama adalah MENGENAL DIRI, means lo mesti tau segala kelebihan kekuranga lo, potensi diri yang punya, tipe kepribadian lo, dsb. Hal ini penting supaya lo bisa efisien dan efektif dalam menentukan VISI HIDUP lo.

And it makes me think… gue tuh orang yang kayak gimana ya.. Well, I always enjoy things that come with the word ‘social’. I always enjoy when I do the design thing, even though I’m not a designer or student from design faculty, I graduated from business school, and I always wanted to have my own company. I like the feeling of being independent. I wanna be a great mom. I want, some day, be able to work from home. I want to be a full time mother, and part time worker. I ALWAYS dream about having my own social institution, like rumah pintar, for anak-anak jalanan in Jakarta.. I love cooking, even though I can’t cook. And it would be nice to have my own restaurant. And I love computer and internet which make my life easier. I wish I can make some money from here… And based on those characters, what kind of VISION should I make?

The book stated that we can get some advantages by having a life vision. Pertama, dengan memiliki visi, pekerjaan yang kita lakukan akan terasa menyenangkan. Kedua, akan ada energy tersendiri yang kita dapat dalam melakukan pekerjaan. Ketiga, visi bisa meramalkan masa depan kita. You are what you dream gitu loh ;-)

Well, I realize that the only reason I live for is God, yes, Him, Allah SWT. Somewhere in 2005, I made promise to Him that I will give my all just for Allah. I’m not a saint, nor an angel. I’m just me, His slave, who want to give my best just for Him. Overall, this is my general vision of life.

From the career point of view, hmm, I know that I need to be rich. I think it’s nice to be an entrepreneur. I’d love to have a business in keakhwatan area, like saloon, boutique, be-a-great-mother-consultant, and many more! *gehehe* I should earn more and more money, and be as rich as possible kind of person. I should be rich because at the end, I will use the money to make my own social institution which concern in children education.

With the entire material thing, I will still put family as my first priority. My inspirations in becoming a great mom are KIMORA LEE SIMONS, mbak ASTRI in Keluarga Nugraha, Mbak MAYA in Smritacharita, Juno’s PARENTS in Juno Movie, and Aya’s mother in One Litre of Tears. I’m hoping my children will become a tough human being. TOUGH means they surely know by their heart what they lived for, and don’t get distracted easily by their friends.

So, gimana caranya biar visi dan tujuan hidup kamu bisa terwujud? Di buku juga dijelasin beberapa langkah yang bisa dilakukan; mulai dari meluangkan waktu untuk merenungkan visi yang paling ‘lo banget’, bikin target (jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang, target rutin), and ACT! There is a say by Lao Tse: perjalanan ribuan mil dimulai dengan langkah pertama. And believe me, the first step is not an easy one. ;-)

Ok, ACT. So what should I do now? I think for today I will be a dedicated employee and earn money as a start for my incoming businesses.

Ya ampuunn, baru ngebahas langkah kedua yaa?

Oke, let’s make it more simple. The third step is time management. Kayaknya udah cukup jelas ya kenapa hal ini penting. Kalo di bukunya sih bakal ditekanin lagi kenapa ngatur waktu itu penting, dan bakal dijelasih juga tips-tips time management. The forth step is menjalin dan memelihara pergaulan. Di bab ini bakal dijelasin tanda2 pergaulan yang sehat, cara berbicara yang baik, sampe tips mendengarkan empatik. Great chapter. The fifth step is about how to face a conflict in an adult way (menghadapi konflik secara dewasa gitu maksudnya, ganti. Hehe). Baca bab ini biking gw déjà vu, soalnya rasanya dulu waktu kuliah juga pernah di ajarin di mata kuliah people management. Mulai dari win-win solution as the solution, sikap asertif ketika menghadapi konflik, dan negosiasi. The last three steps are: mengasah kreatifitas, mengasah kecerdasan emosi, dan mengasah kecerdasan spiritual. Penjelasannya panjaaang, he. Mending baca sendiri aja bukunya soalnya disana juga bakal banyak cerita2 gitu sebagai contoh.

As the conclusion, you better read this book on your own. But as the title said: being an adult is a choice. Life itself is a matter of choices. So, it’s your choice whether you want to move on and face the world or live in dreams and stay at your comfort zone.

Selasa, 24 Februari 2009

5 cm

Kalo lo mau sesuatu, lo kejar aja..

Lo pikirin terus, jangan dilepas.

-Riani, from 5 cm-

“Jadi kalo kita yakin sama sesuatu, kita cuma harus percaya, terus berusaha bangkit dari kegagalan, jangan pernah nyerah, dan taruh keyakinan itu di sini….”, Zafran meletakkan telunjuk di depan keningnya.

“Betul! begitu juga dengan mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar taruh di sini.” Ian membawa jari telunjuknya menggantung mengambang di depan keningnya…

“Kamu taruh di sini… jangan biarkan menempel di kening.

Biarkan..

Dia..

Menggantung..

Mengambang..

5 centimeter..

Di depan kening kamu…”

“Jadi dia ngga akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Apapun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu ngga akan bisa nyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri…”

“… biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung, mengambang didepan kening kamu. Dan sehabis itu yang diperluin cuma ..”

“ Cuma kaki yang yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang lebih sering melihat ke atas.”

“Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja…”

“ Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya…”

“ Serta mulut yang selalu berdoa…”

“ Dan kamu akan dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan, bukan cuma seonggok daging yang hanya punya nama. Kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya, bukan seorang pemimpi saja. Bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan. Dan kamu ngga perlu bukti apakah mimpi-mimpi itu akan terwujud nantinya karena kamu hanya harus mempercayainya.”

“Percaya pada.. 5 centimeter di depan kening kamu.”

Taken from 5cm by Donny Dirghantoro

Tulisan di atas adalah kutipan dari novel 5 cm punya si ade. Novelnya baru selesai gue baca beberapa hari yang lalu. Agak telat sih, hehe, soalnya gue sebenernya udah denger kalo novel ini bagus udah lama. Menurut gue.. well.. ini tipe novel pembangun jiwa mirip chicklit yang cukup ok buat anak muda, em, bagus kok. Skala 1-10 gua kasih nilai 8,5. Dibeberapa bagian ada yang rasanya terlalu bertele-tele, dan.. pokoknya entah kenapa gue ngga ngerasa bagitu nyaman aja pas baca..

Seperti dapat dilihat pada kutipan di atas, pada akhirnya novel ini menekankan pada pentingnya rasa percaya sama diri sendiri, memotivasi untuk punya mimpi, dan percaya bahwa mimpi2 itu pasti bisa terwujud. Hal ini ngingetin gue sama the secret, law of attraction, trilogy (tetralogi?)-nya Andrea Hirata, dan beberapa buku lain. They’re all good books, walaupun ngga semuanya gue udah baca, he.

Ya, pemuda Indonesia kayanya kalo bisa emang mesti banyak2 baca buku beginian.. biar pada punya mimpi yang besar. Ayo2.. mari membaca.. mari bermimpi.. dan mari kita wujudkan mimpi itu bersama2.. [ayoo~]

Harapan itu masih adaaa~ *shoutul harakah*

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.

-Arai, from Edensor-

Senin, 23 Februari 2009

Personality Plus



IT’S IN THE BLOOD

Sekarang gue lagi baca buku: Personality Plus, sebuah buku yg bikin gue jadi sering ngomong ‘ooo, pantes..’ ;-) Diawal babnya buku tersebut ngasih sebuah tes kecil-kecilan yang bakal nunjukin tipe orang kaya gimana sih elo. Dan hasil tes tersebut buat gue adalah: Pure Sanguine.

Well, sebenernya tes ini bukan yang pertama kali buat gue. Dulu, waktu pertama kali masuk SBM gue juga pernah dikasih tes ini dan hasil yang gue dapat adalah sanguinis-koleris. Artinyaaa, selama TIGA tahun di SBM gue udah mengalami pergeseran kepribadian dari sanguine-koleris menjadi PURE SANGUINE ;-)

What a wonderful world…

Em, kalo mau lebih teliti lagi, sebenernya sih masih ada sisa-sisa kejayaan koleris dihasil tes gue yang terakhir. Di result gue yang bagian strength, hasilnya itu 8 poin sanguinis, 6 poin koleris, 3 poin melankolis, dan 4 poin plegmatis. So, kalo dari sisi strength gue termasuk tipe sanguinis-koleris. But fortunately, dari sisi weakness result yg gue dapet adalah: 9 poin sanguinis, 4 poin koleris, 5 poin melankolis, dan 2 poin plegmatis. Maka klo ditotal2, gue mesti nerima kenyataan bahwa gue termasuk golongan makhluk pure sanguinis.

Menjadi seorang pure sanguinis dengan lebih banyak sisi kelemahannya means gue adalah orang yang: tidak ada tindak lanjut aka ga konkrit dan orang tanpa kesalahan aka ga pernah nyadar kalo lagi berbuat salah. ;-) Well done! sangat cantik…

Untuk lebih detailnya, masalah pertama yang gue punya adalah orang sanguinis yang populer bicara terlalu banyak (Littauer, 1992). Maksudnya, kalo gue perlu ngomong A, maka yang keluar dari mulut gue adalah A+B+C+D+E+F+…+Z. Hh, begitulah… Sebenernya gue bukan tipe orang yang suka ngomong, tapi kalo diinget2 lagi, latar belakang gue ga suka ngomong adalah: kalo gue udah mulai ngomong biasanya ga kekontrol. hehe. Seperti yang gue pernah bilang di postingan sebelumnya, gue adalah tipe orang yang ngomong-dulu-baru-mikir ;-) . Oia, tambahan lagi, salah satu sub-kekurang gue dari bab bicara terlalu banyak ini adalah ‘ternyata’ gue adalah tipe orang yang suka membesar-besarkan masalah, or membuat sesuatu yang sebenernya simple dan biasa aja jadi keliatan besar dan hebat. HAHAHA. kayanya klo yg itu udah tergambar jelas deh di tulisan2 di blog ini ^_^V.

Masalah yang kedua adalah: sanguinis yang populer mementingkan diri sendiri (Littauer, 1992). ;-) duh, maaf ya teman2, it’s in the blood ternyata.. hehehehehe. kalo di bukunya sih dibilang, org sanguinis itu paling ga perasa sama org lain karena mereka begitu terpusat pada kepentingan diri sendiri. Mereka jarang memperhatikan keperluan orang lain karena mereka mempunyai sifat bawaan menghindari masalah atau situasi negatif. Sebenernya dibukunya juga dibilang sanguinis bukan pendengar yang baik, tapi ko yg ini kayanya ga berlaku bwt gue, gw cukup empatik kok orangnya, dan lumayan bisa jadi pendengar yg baik.. ya kan?? :D :D :D

Next! masalah gue yg ketiga adalah: org sanguinins punya ingatan yang belum dikembangkan. (Littauer, 1992) So, misteri terbesar abad ini sudah terjawab. Selama ini gue selalu bertanya2, kenapa gue sangat kesusahan menghafal nama orang, menghafal nama tahun, dsb. Dan ternyata jawabannya masih berhubungan sm sifat buruk gw yg sebelumnya yaitu: karena gw ga peduli. Karena gue ga terlalu peduli, maka gue juga ga terlalu berusaha buat mengingat hal-hal itu. So, masalahnya bukan karena pada daya ingat gue yg kurang oke, tapi ternyata lebih karena sifat ga perasa gue tadi. Ada sedikit tambahan: sanguinis lebih tertarik pada orang dari pada statistic, serta kepada fiksi yang warna-warni daripada fakta yang apa adanya. Well, it explains everything..

And the last but not least, sanguine adalah orang yang tidak tertib dan tidak dewasa (Littauer, 1992). Dan gue cuma bisa bilang, ‘terimakasih atas pujiannyaaa…’ HAHAHA; see, ga mau ngaku salah bgt kan gue? ;-) Sumpah ini bab yang paling nusuk. Soalnya ada tulisan ini: sementara orang sanguinis sering merupakan orang yang dianggap “mungkin sekali akan sukses”, mereka kerap kali tidak sukses. **sial** [liat aja nanti, bakal gue buktiin kalo gue juga bisa sukses!!] Mereka memiliki gagasan, kepribadian, kreatifitas, tetapi mereka jarang menyatukannya pada satu waktu tertentu. Well, seenggaknya gue udah punya modal ;-) tinggal di organize aja kan? Hm, lgpl udah tiga taun gue kuliah di sekolah bisnis, masa menej diri sendiri ga bisa.. Hahaha~ *sombong*

Langkah kecil pertama gue untuk memperbaiki diri adalah dengan mulai fokus lagi ngerjain TA :-) . Setelah nulis tulisan ini -diwaktu yg mestinya gue fokus sama TA- yang panjangnya hampir dua halaman, gue baru sadar klo progress TA gw sejak bimbingan yg terakhir adalah NOL. Maka, mari kawan kita kembali ke jalan yang benar… Hamasah!! :-)

Nb: sebenernya masih ada beberapa hal lagi, tapi ngga gue tulis karena gue ga ngeliat hal2 tsb di diri gue ;-) . klo mau lebih jelas, baca aja sendiri bukunya. bagus kok. lagi pula gue kan cuma ngebahas sanguinis aja disini. hahaha~ **hanya peduli diri sendiri mode on**

SANGUINE ROCKS! ;-)